Ujian pertama untuk kualitas karakter hidup seseorang adalah
saat dia menghadapi kemalangan. (Wayne Cheng)
Jika seseorang merasa paling sial di dunia ini, lihatlah kisah hidup Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebelum lahir Ayahnya telah tiada, di Arab pra Islam tak punya Ayah adalah kehinaan yang besar (di masa sekarang di beberapa tempat juga masih ada keyakinan seperti itu). Rasulullah tak pernah merasakan betapa hangatnya di bawah pelukan seorang Ayah. Ketika usianya masih kanak-kanak lagi-lagi dia kehilangan orang yang dicintainya: Ibunda Aminah. Kelak, di kemudian hari hidup Rasulullah tak pernah jauh dari kesedihan karena ditinggal mati orang yang dicintainya: Kakek, Paman yang selalu melindunginya, Istri tercinta, seorang anak yang diidam-idamkan, dua putri yang paling disayanginya. Setelah mengetahui hal ini, masih pantaskah kita berkata, “Akulah orang paling sial di dunia ini”?
Sekarang coba kita tanya Psikolog mana saja dengan pertanyaan “Kehilangan macam apa yang membuat seseorang merasa kesedihan yang mendalam?”. Saya jamin, sang Psikolog akan menjawab kehilangan orang yang dicintai.
KEHILANGAN ORANG TUA AKAN ANAKNYA
Dalam salah satu filmnya (maaf, saya lupa judul filmnya) Denzel Washington yang berperan sebagai sang Ayah berjuang mati-matian agar anaknya yang sedang sekarat dapat diselamatkan. Mengenai keadaan anaknya, sang Ayah berkata, “Bukan aku yang seharusnya menguburkan anakku, tetapi anakku lah yang kelak akan menguburkanku”. Sang Ayah yang demi si buah hati rela berbuat apa saja, dalam hal ini Denzel si Ayah sampai-sampai menyandera seisi rumah sakit, dibidik para sniper, dan dicemooh masyarakat. Semuanya itu tak dipedulikannya asalkan si buah hati dapat sembuh.
Tindakan Denzel Washington dalam filmnya itu tentu akan diikuti oleh setiap orang tua. Tindakan yang nekat, konyol, tak masuk diakal. Ya, demi anak orang tua rela meruntuhkan logika. Anak yang selama sembilan bulan dijaga benar, layaknya menjaga intan permata. Bahkan orang tua tak sanggup melihat anaknya yang disunat meringis kesakitan.
14 tahun yang lalu ayah saya kehilangan salah satu anak yang dicintainya. Gadis manis berusia empat tahun, cerdas, lucu, dan pandai menyanyi. Begitu terpukulnya ayah saya hingga dia membentur-benturkan kepalanya ke tembok, merasa bersalah tak dapat menolongnya. sedangkan Ibu saya, selama dua tahun dari sejak kejadian itu berubah menjadi seperti orang lain. Setiap malam menangis sambil mendekap sebuah foto. Inilah bukti bahwa kehilangan anak seperti kehilangan separuh diri.
KEHILANGAN SESEORANG AKAN SAHABAT TERBAIKNYA
Setelah Rasulullah SAW wafat, Bilal dan Saad Bin Abi Waqqash tak sanggup tinggal di Makkah ataupun Madinah yang bagi mereka penuh kenangan Rasulullah. Mereka pergi sambil menyebarkan panji Islam. bahkan sahabat Saad Bin Abi Waqqash berkelana hingga ke negeri Cina. Selain Bilal dan Saad, ada sahabat-sahabat lain yang juga tak sanggup menerima kematian sahabat terbaik mereka, Muhammad.
Sahabat adalah cermin kita. dengannya kita berkaca apa yang nampak buruk di diri kita. Sahabat adalah juga batu loncatan kita yang pertama kali membantu kita bangkit dari keterpurukan. Sahabat yang menanamkan di hati kita prinsip saling menjaga dan memiliki. Mereka ibarat peti harta karun penyimpan rahasia-rahasia kita. Betapa pentingnya keberadaan sahabat.
Lalu bagaimana jika persahabatan tercerabut dari hati kita? Jika itu terjadi, sebagian dari kita mungkin akan menjadi orang yang penuh apriori, pesimis dalam bersikap, dan skeptis kepada siapa saja. Karena itu banyak kasus orang yang kehilangan sahabat cenderung menyendiri, memutuskan komunikasi dari siapapun dan berburuk sangka kepada orang yang berniat baik kepadanya.
JAGALAH PERSAHABATAN SEPERTI PRAJURIT YANG BERJAGA DI MALAM PEPERANGAN
KEHILANGAN SESEORANG AKAN KEKASIH YANG DICINTAINYA
Ketika pasukan NAZI diambang kekalahan, der fuhrer, Adolf Hitler berdiri terpekur diatas reruntuhan dengan bedil pistol mengarah ke kepalanya. Detik-detik sebelum pistol meletus, Hitler mengucapkan sebuah nama yang baginya adalah nama terindah, EVA. menjelang kematiannya bukan kejayaan yang runtuh yang dia ingat, bukan pula jumlah prajuritnya yang tewas ataupun nasib dirinya setelah kekalahan. Tetapi adalah Eva Von Braun yang terngiang diotaknya.
Kisah Hitler diatas adalah bukti betapa kuatnya sinar yang dipancarkan oleh kekasih tercinta, lebih kuat dari sinar gamma dan lebih surya dari pancaran mentari. Belahan jiwa kita yang bersedia sehidup semati, setia mendampingi baik dalam keadaan senang atapun susah, sehat maupun sakit. Sehari saja kita tak bertemu dengannya riak jiwa kita tak beraturan, yang ada hanyalah gundah gulana seperti terkurung dalam kegelapan.
Bagaimana jika Rabb mengambil belahan jiwa kita? Untuk pertanyaan ini saya tak dapat menjawabnya. Mungkin diantara pembaca ada yang dapat menjawabnya. Dan saya turut berempati jika diantara pembaca pernah merasakannya.
Getir kematian adalah ujian pertama seseorang. ada yang gagal menghadapinya ada juga yang sukses gilang gemilang. Beruntunglah kita yang masih diberi kehidupan dengan cinta disekeliling kita. Jadi enyahkan jauh-jauh kalimat, “Akulah orang yang paling sial di dunia ini”, karena kalimat itu tak pantas diucapkan oleh orang yang dianugerahi kehidupan dan cinta
dosti